Benteng Keraton Buton

2723804

 

 

Benteng Keraton Buton merupakan salah satu objek wisata bersejarah di Bau-bau, Sulawesi Tenggara. Benteng ini merupakan bekas ibukota Kesultanan Buton memiliki bentuk arsitek yang cukup unik, terbuat dari batu kapur/gunung. Benteng yang berbentuk lingkaran ini dengan panjang keliling 2.740 meter.

Benteng Keraton Buton mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guiness Book Record yang dikeluarkan bulan september 2006 sebagai benteng terluas di dunia dengan luas sekitar 23,375 hektar. Selain menjadi benteng terluas di dunia, Benteng Keraton Buton memiliki bentuk unik yang terbuat dari batu kapur. Dulunya benteng ini dijadikan tempat pertahanan, namun kini menjadi objek wisata yang menampilkan sejarah Kesultanan Buton dengan pemandangan Kota Bau-Bau yang menakjubkan.

benteng2.jpg

Benteng ini memiliki 12 pintu gerbang yang disebut Lawa dan 16 emplasemen meriam yang mereka sebut Baluara. Karena letaknya pada puncak bukit yang cukup tinggi dengan lereng yang cukup terjal memungkinkan tempat ini sebagai tempat pertahanan terbaik di zamannya. Dari tepi benteng yang sampai saat ini masih berdiri kokoh anda dapat menikmati pemandangan kota Bau-Bau dan hilir mudik kapal di selat Buton dengan jelas dari ketinggian,suatu pemandangan yang cukup menakjukkan. Selain itu, di dalam kawasan benteng dapat dijumpai berbagai peninggalan sejarah Kesultanan Buton.

Di dalam kawasan benteng terdapat permukiman penduduk yang merupakan pewaris keturunan dari para keluarga bangsawan Keraton Buton masa lalu. Di tempat ini juga terdapat situs peninggalan sejarah masa lalu yang masih tetap terpelihara dengan baik. Di tengah benteng terdapat sebuah masjid tua dan tiang bendera yang usianya seumur masjid. Yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Buton III La Sangaji Sultan Kaimuddin atau dikenal dengan julukan ‘Sangia Makengkuna’ yang memegang takhta antara tahun 1591-1597.

google.co.id 20150529_134056

Benteng ini memiliki panjang 2.740 meter yang mengelilingi perkampungan adat asli Buton dengan rumah-rumah tua yang tetap terpelihara hingga saat ini. Masyarakat yang bermukim di kawasan benteng ini juga masih menerapkan budaya asli yang dikemas dalam beragam tampilan seni budaya yang kerap ditampilkan pada upacara upacara adat.
Khusus Benteng Keraton Buton yang aslinya disebut Keraton Wolio dibangun pada masa pemerintahan Sultan Buton VI (1632-1645), bernama Gafurul Wadudu. Benteng ini berbentuk huruf dhal dalam alpabet Arab yang diambil dari huruf terakhir nama Nabi Muhammad SAW.
Benteng Keraton Wolio memiliki 12 pintu gerbang dan 16 pos jaga (bastion). Tiap pintu gerbang (lawa) dan bastion dikawal empat sampai enam meriam. Pada pojok kanan sebelah selatan terdapat godana-oba (gudang mesiu) dan gudang peluru di sebelah kiri. Konon pada masa pembuatan benteng keraton ini bahan baku utama yang digunakan adalah batu-batu gunung yang disusun rapi dengan kapur dan rumput laut (agar-agar) serta putih telur sebagai bahan perekat.

Daya tarik 

bb4601c8cdd72c63d9f1a9773adc740623847a6d

Dari pinggir benteng yang hingga sekarang ini masihlah berdiri kokoh anda bisa nikmati panorama kota Bau-Bau serta hilir mudik kapal di selat Buton dengan terang dari ketinggian, satu panorama yang cukup menakjukkan. Diluar itu, didalam lokasi benteng bisa didapati beragam peninggalan histori Kesultanan Buton.

87712e60236502c00352e3b7223811b2_masjid-keraton-buton-1

Apabila bertandang ditempat ini, pertama anda bakal lihat disisi kanan pintu gerbang benteng itu yaitu Masjid Agung Wolio yang mempunyai nama lain Masjid Al Muqarrabin Syafyi Shaful Mu’min. Masjid yang telah berusia 300 th. ini masihlah aktif dipakai sampai saat ini, terlebih waktu Salat Jumat.

Di depan masjid, ada juga aula kesultanan yang umum dipakai untuk aktivitas kesultanan. Yang barusan berjalan yaitu ritual Sokaiana Pau Laki Walio, atau pengumuman nama sultan yang baru. Ritual ini tidaklah terlalu ramai di banding yang ada pada dua minggu sesudah pengumuman nama sultan.

Di Mesjid ada tiang bendera Kesultanan Buton yang menjulang disisinya. Semuanya pewaris histori lisan di Buton setuju kalau tiang bendera kayu itu telah berumur sekitaran empat era lamanya.

Tetapi, ada sedikit bau mistik di dalam masjid tua itu. Di belakang mimbar khatib atau di ujung kepala imam tatkala dalam keadaan sujud terdapat pintu gua yang disebut ”pusena tanah” (pusat bumi) oleh orang-orang tua di Buton. Konon dari dalam gua itu keluar suara azan pada suatu hari Jumat. Peristiwa itu menjadi latar belakang pendirian masjid di tempat tersebut.

Ketika masjid itu direhabilitasi pada tahun 1930-an, pintu gua tadi ditutup dengan semen sehingga ukurannya lebih kecil menjadi sebesar bola kaki. Lubangnya diberi penutup dari papan yang bisa dibuka oleh siapa yang ingin melihat pintu gua itu.

Di salah sebuah kamar Kamali (istana) Badia, masih di kompleks keraton, terdapat meriam bermoncong naga. Meriam bersimbol naga tersebut dibawa leluhurnya Wakaa-kaa dari Tiongkok sekitar 700 tahun silam.

Meriam itu masih memiliki peluru dan masih bisa diledakkan. Kamali Badia itu sendiri tidak lebih dari rumah konstruksi kayu khas Buton sebagaimana rumah anjungan Sultra di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Sesuai tradisi, rumah atau istana Kesultanan Buton harus dibuat keluarga sultan dengan biaya sendiri.

Tak jauh dari mesjid agung ini anda bisa menginjakkan kaki ke malige (mahligai Kesultanan Buton) yang berdiri anggun di pertengahan kota Baubau. Tempat tinggal kebiasaan itu asli oleh-oleh arsitektur tradisional Buton, yang disebut panggung berjenjang serta bertingkat tanpa ada memakai pasak sebagai perangkainya.

Banyak objek menarik yang dapat anda saksikan didalam benteng Keraton Wolio itu. seperti batu Wolio, batu popaua, masjid agung, makam Sultan Murhum (Sultan Buton pertama), Istana Badia, serta meriam-meriam kuno. Batu Wolio yaitu satu batu umum berwarna gelap. Besarnya lebih kurang sama juga dengan seekor lembu tengah duduk berkubang. Konon, di sekitaran batu berikut rakyat setempat temukan seseorang putri jelita bernama Wakaa-Kaa yang disebutkan datang dari Tiongkok. apabila anda menjelajahi lebih jauh dalam keraton ini, Di salah satu kamar Kamali (istana) Badia, masihlah di kompleks keraton, ada meriam bermoncong naga. Meriam bersimbol naga itu dibawa leluhurnya Wakaa-kaa dari Tiongkok sekitaran 700 th. silam. Meriam itu masihlah mempunyai peluru serta masihlah dapat diledakkan. ada Kamali Badia yang seperti tak kian lebih tempat tinggal konstruksi kayu khas Buton seperti tempat tinggal anjungan Sultra di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Sesuai sama kebiasaan, tempat tinggal atau istana Kesultanan Buton mesti di buat keluarga sultan dengan cost sendiri.

Bangunannya terdiri atas susunan batu gunung bercampur kapur dengan bahan perekat dari bebrapa supaya, semacam rumput laut. Luas semua kompleks keraton yang dikitari benteng mencakup 401. 911 mtr. persegi. Ruang yang sekian luas itu menaklukkan benteng terluas didunia terlebih dulu yang ada di Denmark. Arsitek bangunan ini mempunyai bentuk yang cukup unik serta menarik yang terbuat dari batu kapur/gunung. Benteng ini memiliki 12 pintu gerbang yang namakan Lawa serta 16 emplasemen meriam yang mereka sebut Baluara. Lantaran letaknya pada puncak bukit yang cukup tinggi dengan lereng yang cukup terjal sangat mungkin tempat ini sebagai tempat pertahanan paling baik di jamannya.

Pada saat kejayaan pemerintahan Kesultanan Buton, keberadan Benteng Keraton Buton berikan dampak besar pada eksistensi Kerajaan. Dalam kurun saat kian lebih empat era, Kesultanan Buton dapat bertahan serta terlepas dari ancaman musuh. Dari pinggir benteng yang hingga sekarang ini masihlah berdiri kokoh anda bisa nikmati panorama kota Bau-Bau serta lihat hilir mudik kapal di selat Buton dengan terang dari ketinggian Semasing pintu gerbang mempunyai ciri khas yang sama yakni dengan meriam serta bangunan seperti bungalow. Dari situ, anda dapat lihat kecantikan Buton dari ketinggian. Perumahan yang tersusun sedemikian rupa, dilengkapi dengan pohon-pohon serta laut menghampar dari kejauhan.

Benteng ini luasnya meraih 23, 375 hektar dengan panjang keliling 2, 7 km. Benteng ini mempunyai 12 pintu gerbang dengan satu pintu tersembunyi yang konon jadi tempat persembunyian Arung Palakka. Satu diantara pintu yang populer ada di dekat Masjid Agung Walio serta di aula kesultanan.

meriam benteng keraton buton sulawesi bau bau meledak.JPG

Bila anda Berkeliling di benteng ini kurang satu hari, bila anda mendatangi tiap-tiap tempat wisata yang ada disana. Semasing pintu gerbang menghidangkan panorama yang indah, anda dapat lihat seperti apa tempat tinggal tradisional Buton, komplit dengan sebagian orang-orang yang kenakan pakaian tradisional.

Ada satu hal menarik yang patut diketahui mengenai keberadaan benteng Keraton Buton, yakni sebuah benteng yang tidak hanya berdiri dan diam membisu, tetapi di dalam kawasan benteng keraton terdapat aktivitas masyarakat yang tetap melakukan berbagai macam ritual layaknya yang terjadi pada masa kesultanan berabad-abad lalu.

Fasilitas 

Ada showroom di Dewan Kerajinan Nasional Sultra yang ada di depan lorong Transito atau ke toko Souvenir Bravo di depan Hotel Imperial Wua-Wua yang bisa Anda jumpai seperti tenunan khas Buton serta kerajinan perak. Ada sekira 100 type kain tenunan khas Buton yang terwujud dari tangan-tangan trampil orang-orang Buton. Apabila anda menginginkan bermalam anda dapat ke kota bau-bau yang menyediaakan sebagian penginapan.

Transportasi 

Dari Makassar ke Kota Baubau serta untuk menuju ke kota ini anda dapat naik Pesawat Express Air yang beroperasi 2 kali satu hari atau Pesawat Wings Air yang beroperasi setiap hari, atau anda dapat pula naik kapal PELNI yang beroperasi 28 kali satu bulan serta kapal cepat 2 kali satu hari dengan rute Bau-Bau – Raha – Kendari.

Anjuran & Panduan 

Berkelilinglah ketika pagi hari atau sore hari. Bawalah minum lantaran benteng ini begitu luas, kurang sehari untuk anda untuk mengelilinginya.

sumber :

https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/belajar-sejarah-kesultanan-buton-di-benteng-keraton-wolio-bau-bau

https://id.wikipedia.org/wiki/Benteng_Keraton_Buton

https://indonesiaproud.wordpress.com/2011/12/20/benteng-keraton-wolio-buton-benteng-terluas-di-dunia/

http://wisata-tanahair.com/2016/10/rute-menuju-tempat-wisata-benteng.html

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s